© Reuters.

Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (21/07) pagi. Tampaknya, kenaikan rupiah ini beriringan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia lain dan Bank Indonesia menyebutkan alasan kenapa rupiah berada di atas level 14.000 dalam beberapa hari terakhir ini.
Rupiah bergerak naik 0,07% di 14.775,0 per dolar AS hingga pukul 11.20 WIB. Padahal di awal pembukaan perdagangan hari ini, rupiah sempat menguat 0,24% seperti dilaporkan Kontan Selasa (21/07).
Penguatan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan lainnya. Won Korea Selatan masih jadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,41%. 
Disusul dolar Taiwan yang menguat 0,35% dan baht Thailand yang terangkat 0,22%. Kemudian ada peso Filipina yang terapresiasi 0,13% serta yen Jepang yang menguat 0,05% terhadap the greenback. 
Sedangkan dolar Hong Kong dan ringgit Malaysia terlihat sama-sama naik tipis 0,01%.
Dari dalam negeri sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia Selasa (21/07), Bank Indonesia (BI) mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir terjadi karena tingginya kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi global yang diperkirakan akan lesu karena corona. Peningkatan terjadi karena pandemi virus corona atau covid-19 justru mencetak rekor harian baru belakangan ini. 
Kurs rupiah yang sebelumnya sudah menguat ke kisaran Rp13 ribu per dolar AS perlahan-lahan terus melemah hingga menyentuh Rp14.800 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan prospek ekonomi global yang masih lesu membuat pelaku pasar keuangan meninggalkan aset investasi berisiko, termasuk mata uang seperti rupiah.
Hal ini, sambungnya, membuat pelaku pasar memilih instrumen investasi lain, misalnya surat utang pemerintah dan emas. Hal ini membuat tingkat imbal hasil (yield) surat utang menurun, sedangkan harga emas meningkat.
Lebih lanjut, Destry mencatat tingkat depresiasi atau pelemahan rupiah mencapai 3,57 persen terhadap dolar AS. Namun, ia mengklaim pelemahan ini masih lebih baik daripada mata uang negara lain. Baht Thailand misalnya, sudah melemah 6,08 persen dari dolar AS sepanjang tahun ini. Sementara rubel Rusia melemah 24,9 persen dan Brasil minus 34,43 persen dari mata uang Negeri Paman Sam.