© Reuters.

–  Dolar Amerika Serikat kembali naik pada Jumat (26/06) petang di tengah meningkatnya kasus covid-19 di AS menebar keraguan atas langkah pembukaan kembali ekonomi sehingga mendorong permintaan atas mata uang safe haven. Departemen Kesehatan AS melaporkan jumlah keseluruhan kasus baru covid-19 lebih dari 37.000 pada hari Kamis.
Hingga pukul 14.12 WIB, US Dollar Index naik tipis 0,06% di 97,445 menurut data . Euro EUR/USD turun 0,07% ke 1,1210 dan Poundsterling GBP/USD melemah 0,09% di 1,2403.
Dari tanah air, rupiah USD/IDR kian melemah 0,51% di 14.247,5 per dolar AS sampai pukul 13.47 WIB.
Sedangkan Yen USD/JPY turun 0,09% di 107,10 pukul 14.16 WIB.
Juga mendukung kenaikan greenback ini berdasar laporan Reuters Jumat (26/06) petang yakni meningkatnya permintaan dari korporasi menjelang akhir kuartal meski bertambahnya kasus covid-19 di AS.
Krisis kesehatan di AS terus berlanjut karena kasus harian baru di seluruh negeri paman sam itu naik ke tingkat rekor dan gubernur Texas mengumumkan penghentian sementara pembukaan kembali negara bagian tersebut akibat lonjakan kasus virus dan meningkatnya jumlah pasien yang menjalani rawat inap.
Lebih lanjut, penguatan dolar AS ini terjadi setelah data ekonomi menunjukkan ada pemulihan ekonomi di AS pada Kamis kemarin. Tercatat penurunan kecil pada klaim pengangguran dan kenaikan penting data pesanan barang tahan lama. Pasar juga angka memantau data pengeluaran serta angka sentimen Michigan pada Jumat malam.
Namun, data ekonomi ini masih dibayangi oleh berita rekor jumlah kasus covid-19 di seluruh wilayah AS. Departemen Kesehatan AS melaporkan jumlah keseluruhan lebih dari 37.000 kasus baru pada hari Kamis.
“Dengan data cenderung memainkan perannya dalam tajuk utama virus, investor cenderung terus gelisah hari ini,keseimbangan risiko untuk aset pro siklus cenderung turun dan dolar mungkin tetap menguat ditopang permintaan safe haven,” kata analis di ING, dalam catatan riset.
“Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa tindakan pembatasan baru akan diterapkan. Sehingga, kami mempertahankan pandangan jangka menengah yang positif untuk aset berisiko, mayoritas terkait angka infeksi yang mendorong sentimen dalam jangka pendek,” tambah ING.