© Reuters.

Bitcoin terus melaju dan telah melampaui level $12.000. Melihat trend ini sejumlah analis meyakini cryptocurrency atau mata uang kripto dapat digunakan sebagai lindung nilai terhadap perang dagang China-AS yang sedang berlangsung dan telah menekan aset paling berisiko dan mengakibatkan jatuhnya saham-saham pekan ini.
Bitcoin diperdagangkan menjadi $12,226.0 pada pukul 16.02 WIB. Nilai saat ini telah melonjak lebih dari 25,0% selama tujuh hari terakhir. Pergerakan naik ini mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin lebih dari $210,0 miliar, atau 67,43% dari keseluruhan kapitalisasi pasar mata uang kripto.
“Mata uang kripto tampaknya berpotensi menjadi safe haven,” ujar Brad Bechtel, kepala valuta asing di Jefferies, menjelaskan kepada Bloomberg melalui email.
“Ketika pasar tenang dan reli, maka Bitcoin sedikit jatuh di tepi jalan,” terangnya. “Tapi setiap kali kita melihat turbulensi di pasar dan mulai terjadi aksi jual, Anda melirik Bitcoin dan aset safe haven lainnya reli”.
Kenaikan terjadi ketika pasar saham global dan harga aset berisiko lainnya jatuh minggu ini menyusul meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS-China.
Pada hari Senin, Beijing membiarkan yuan China jatuh ke level terlemahnya dalam satu dekade terhadap dolar dan juga meminta perusahaan-perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian produk pertanian dari AS.
“China menurunkan nilai mata uang mereka hampir ke level terendah dalam sejarah. Ini disebut “manipulasi mata uang.” Apakah Anda mendengarkan ini Federal Reserve? Ini adalah pelanggaran besar yang akan sangat melemahkan Tiongkok dari waktu ke waktu!” cuit Presiden AS Donald Trump dalam tweet semalam.
Pekan lalu, Trump mengatakan ia akan memberlakukan tambahan tarif bagi produk asal China mulai 1 September jika negosiasi perdagangan tidak menunjukkan kemajuan yang berarti.
Pernyataan Departemen Keuangan AS mengungkapkan China sebagai manipulator mata uang dan mengatakan bank sentral Tiongkok “memiliki pengalaman luas memanipulasi mata uang dan tetap siap untuk melakukannya secara berkelanjutan.”