© Reuters.

Harga minyak lanjut turun pada Selasa (30/06) petang di tengah aksi ambil untung trader setelah harga melonjak di sesi sebelumnya dan perusahaan minyak negara Libya memberi tanda kemajuan dari perundingan pembukaan blokade untuk melanjutkan kegiatan ekspor sehingga ini berpotensi meningkatkan pasokan.
Pukul 14.07 WIB, harga Minyak Mentah WTI Berjangka turun 1,06% ke $39,28 per barel menurut data setelah ditutup melonjak 3,24% pada Senin dan harga Minyak Brent Berjangka melemah 0,81% di $41,51 per barel setelah berakhir melonjak 4,86% pada Selasa.
Mengutip laporan Reuters Selasa (30/06) petang, jumlah kasus covid-19 terus mengalami peningkatan di selatan dan barat daya negara-negara bagian AS, tetapi pertumbuhan yang kuat dari penjualan rumah lama di AS turut memberi sentimen optimisme bahwa permintaan bahan bakar global meningkat.
Di sisi penawaran, investor juga memantau apakah Libya, yang dapat menghasilkan sekitar 1% dari pasokan minyak global, dapat melanjutkan kegiatan ekspornya sejak ditutup bulan Januari silam akibat dilanda perang saudara.
Perusahaan Minyak Nasional (NOC) Libya mengatakan pada hari Senin bahwa pihaknya membuat kemajuan dalam pembicaraan dengan negara-negara tetangga untuk mencabut blokade.
Sementara itu, Royal Dutch Shell (RDSa.L) pada Selasa (30/06) mengatakan akan mengalami penurunan nilai asetnya hingga $22 miliar setelah menurunkan proyeksi jangka panjang untuk harga minyak dan gas.
Langkah ini merupakan bagian dari tinjauan luas perusahaan tersebut terhadap operasional perusahaan setelah CEO Ben van Beurden pada bulan April menyusun rencana untuk mengurangi emisi gas rumah kaca bersih menjadi nol pada tahun 2050.
Shell, yang kapitalisasi pasarnya saat ini mencapai $126,5 miliar menurut data Refinitiv, mengatakan akan menargetkan biaya penurunan nilai setelah pajak agregat di kisaran $15 hingga $22 miliar pada kuartal kedua.
Perusahaan ritel bahan bakar terbesar di dunia itu juga mengatakan pihaknya memperkirakan penurunan penjualan bahan bakar sebesar 40% pada kuartal kedua. Ini dipicu penurunan tajam konsumsi akibat dari pembatasan perjalanan terkait covid-19 di seluruh dunia.